Kamis, 03 November 2011

Mata Air Kehidupan

MATA AIR KEHIDUPAN
Rasulullah saw bersabda:
"Perumpamaan risalah berupa hidayah (petunjuk) dan ilmu yang Alloh amanahkan kepadaku adalah seperti hujan deras yang mengguyur permukaan tanah, maka ada sebidang tanah subur (baik) yang tersiram hujan kemudian menampungnya hingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada pula tanah keras yang hanya menampung air, maka Alloh menjadikannya bermanfaat bagi manusia; mereka minum, memberi minum hewan ternak dan bercocok tanam dengannya. Dan ada kalanya hujan tersebut mengenai tanah lain yang datar lagi lunak, yang tidak menampung air dan tidak menumbuhkan tetumbuhan. Maka perumpamaan ini adalah bagaikan orang yang dapay memahami (ajaran) agama Alloh dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain dari risalah yang Alloh amanahkan kepadaku, ia mempelajari dan kemudian mengajarkannya. Perumpamaan lain adalah untuk orang yang tidak mau mendongakkan kepalanya sedikitpun dan bahkan tidak mau menerima hidayah yang ada pada risalah tersebut." (HR. Bukhari Kitab al-'Ilm Bab: Fardhlu Man 'Alima wa 'Amila No. 79 dan Muslim Kitab al-Fadha'il Bab: Matsalu Ma Bu'itsa Bihi an-Nabiyy sa min al-Huda wa al-'Ilm No. 2282)

Hadits di atas memberikan tawjih nabawiy (wejangan kenabian) kepada kita untuk antusias dalam mencari dan mempelajari ilmu. Rasulullah mengumpamakan ilmu dan hidayah (petunjuk) yang beliau bawa sebagai risalahnya adalah seperti al-ghayts (hujan), tidak lain karena keduanya (ilmu dan hujan) mampu memberikan kehidupan, manfaat, makanan, obat-obatan dan manfaat lainnya  yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Semuanya  dapat diperoleh dengan ilmu dan hujan.
Kemudian Rasulullah saw mengumpamakan hati manusia bagaikan lapisan tanah yang mendapat siraman hujan, karena tanah adalah tempat menampung air yang kemudian akan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang bermanfaat. Sebagaimana halnya dengan hati yang mau mendalami ilmu, maka ilmunya akan berbuah di dalamnya, berkembang, hingga akan terlihat berkah dan buahnya yang telah masak (Mifah Dar as-Sa'adah 1/246-247)

Hadits tersebut pun memberikan permisalah tentang risalah Rasulullah saw yang membawa ajaran agama dengan hujan lebat yang menyirami seluruh permukaan tanah, yang semua orang membutuhkan siraman hujan sesuai dengan (hajat) kebutuhannya masing-masing. Kemudian orang-orang yang mendengar permisalan dalam hadits tersebut diumpamakan dengan tipikal permukaan tanah yang disirami hujan, yaitu:
Ada tipikal seorang 'alim (cerdik pandai) yang mau mengamalkan ilmunya dan juga mau mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Tipikal seperti ini dimisalkan dalam hadits sebagai tanah subur yang mampu menyerap atau menampung air sehingga menyuburkan dirinya dan juga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan lain dan dapat memberikan manfaat kepada selainnya, yaitu manusia serta hewan. Tipikal ini adalah tipe orang yang mampu menghafal ilmu dan memahaminya. mereka memahami makna-maknanya serta mampu mengeluarkan hukum-hukum, hikmah-hikmah dan manfaat-manfaatnya. Pemahamannya terhadap agama dan kemampuannya untuk mengeluarkan hukum adalah seperti tumbuhnya rumput karena terbasahi air.
Adapula orang yang tipikalnya hanya sebagai pengimpun ilmu dengan menghabiskan banyak waktu hidupnya, namun ia tidak mengamalkan atau meresapi ilmunya, akan tetapi ia masih mau mengajarkannya kepada orang lain, maka tipikal seperti ini dimisalkan dengan tanah keras yang mampu menampung air hujan, sehingga dapat memberikan manfaat kepada selainnya, sebagai oase misalnya. Tipikal ini adalah tipe orang yang mampu menghafal ilmu, menjaga, menyebarkan dan bahkan mampu mendukungnya, namun ia tidak mampu memahami makna-maknanya, serta tidak mampu mengeluarkan hukum-hukum, hikmah-hikmah dan manfaat-manfaat ilmu tersebut. Mereka seperti orang yang dapat membaca al-Qur'an, menghafalnya, memperhatikan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) dan harakatnya, namun tidak dianugerahi pemahaman khusus, seperti yang diungkapkan oleh 'Ali ra:
"Kecuali pemahaman yang diberikan Alloh kepada hamba-Nya di dalam kitab-Nya." (HR. Bukhari)
Pemahaman seseorang tentang Alloh SWT dan Rasulullah saw tidaklah sama, bahkan berbeda-beda. Ada yang hanya mampu memahami satu atau dua hukum dari satu dalil, sedangkan yang lain mampu memahami seratus atau dua ratus hukum dari dalil yang sama. Hal ini diumpamakan dengan tanah yang mampu menampung atau menyimpan air untuk orang lain. Ada yang minum darinya, memberikan minum hewan ternaknya dan bercocok tanam dengannya.
Tipikal lainnya adalah tipe orang yang mampu mnegetahui atau mendengar ilmu, namun dia tidak mau menghafal dan tidak mau mengamalkannya, apalagi mengajarkannya kepada orang lain. Dalam hadits, tipikal seperti ini dilukiskan sebagai tanah datar yang lunak, yang tidak dapat menampung air dan tidak pula dapat menumbuhkan tetumbuhan. Tipikal ini adalah tipe orang yang tidak memiliki ilmu sedikitpun, baik dalam hafalan, pemahaman ataupun dalam periwayatan.
Tipikal yang dipuji dalam hadits adalah dua tipe yang pertama, karena keduanya dapat memberikan manfaat ilmu, walaupun berbeda tingkatannya. mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Kelompok pertama adalah kelompok yang paling tinggi derajat dan kedudukannya. Alloh SWT berfirman:
"Demikianlah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh mempunyai karunia yang besar." (QS. al-Jumu'ah (62):4)
Adapun tipikal ketiga yang disendirikan penyebutannya, tiada lain adalah golongan orang-orang yang celaka lagi tercela, yaitu orang yang yang tidak dapat memberikan manfaat sedikitpun. Mereka tidka bisa diangkat derajatnya dengan petunjuk Alloh SWT, karena tidak mau menerimanya.  Mereka lebih buruk daripada bintang ternak, dan mereka adalah bahan bakar neraka (Fat al-Bariy 1/177 dan Mifah Dar as-Sa'adah 1/248-249)
Hadits mulia di atas memuat keagungan ilmu dan keutamaan mengajarkannya, serta menjelaskan tentang kemulian orang-orang yang memilikinya dan kecelakaan orang-orang yang tidak memilikinya. Hadits tersebut pun menjadi bukti bahwa kebutuhan manusia kepada ilmu adalah seperti kebutuhan mereka kepada hujan, bahkan jaul lebih besar. Apabila mereka tidak memiliki ilmu, maka mereka seperti tanah yang tidak mendapatkan siraman hujan. Imam Ahmad rhm berkata:
"Kebutuhan manusia kepada ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan, karena makanan atau minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari, sedangkan ilmu selalu dibutuhkan sebanyak denyutan nadinya." (Thabaqat al-Hanabilah 1/146)
Allah SWT berfirman:
"Alloh telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Alloh membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil." (QS. ar-Ra'du (13): 17)
Alloh SWT mengumpamakan ilmu yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya seperti air yang Dia turunkan dari langit, karena ilmu dan air hujan , keduanya mendatangkan kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia, di dunia dan di akhirat. Alloh juga mengumpamakan hati manusia seperti lembah. Hati yang besar yang mampu menampung ilmu yang banyak adalah seperti lembah besar yang mampu menampung air yang banyak. Sedangkan hati yang kecil dan hanya mampu menampung ilmu yang sedikit adalah seperti lembah yang kecil yang hanya mampu menampung air  yang sedikit. Alloh SWT berfirman: "...maka arus itu membawa buih yang mengembang..."
Itulah perumpamaan Alloh SWT tentang ilmu, bahwa apabila ilmu telah bercampur dengan hati, maka ilmu tersebut akan mengeluarkan buih syubhat kebatilan dari dalam hati, kemudian buih syubhat tersebut mengapung di permukaan hati, sebagaiman arus di lembah mengeluarkan buih yang mengapung di atas permukaan air. Alloh SWT menjelaskan bahwa buih yang mengapung berada di atas permukaan air, dan tidak menempel kuat di tanah lembah. Demikian pula syubhat-syubhat yang batil, apabila telah diusir oleh ilmu dari dalam hati maka akan mengapung di permukaan hati, tidak menetap di dalamnya, kemudian pada tahap berikutnya akan terbuang dan yang menetap di dalam hati hanyalah apa yang bermanfaat bagi pemiliknya dan manusia pada umumya, yaitu petunjuk dan agama yang benar, sebagaimana yang menetap di dalam lembah adalah air yang murni, sedangkan buihnya musnah karena tidak ada harganya. tidak ada yang memahami perumpamaan-perumpamaan Alloh SWT kecuali orang-orang yang berilmu.
Alloh SWT pun membuat perumpamaan yang lain dalam firman-Nya:
".. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu..." Maksudnya adalah bahwa apabila manusia membakar benda-benda padat seperti emas, perak, tembaga dan besi, maka benda-benda tersebut akan mengeluarkan kotoran dalam bentuk buih yang sebelumnya menyatu dengannya. Buih kotoran tersebut dibuang dan dikeluarkan, sedangkan yang tersisa adalah logam asli (murni)nya saja.
Alloh SWT membuat perumpamaan berupa air, karena air membuat kehidupan, mendinginkan (menyegarkan), dan mengandung manfaat yang banyak sekali. Alloh juga membuat perumpamaan berupa api, karena api dapat mengeluarkan cahaya dan membakar apa saja yang tidak bermanfaat. Maka ayat-ayat Al-Qur'an mampu menghidupkan hati sebagaimana air menghidupkan tanah. Ayat-ayat Al-Qur'an juga mampu membakar kotoran-kotoran hati, syubhat-syubhat, syahwat-syahwat dan dendam kesumatnya, sebagaimana api membakar apa saja yang dimasukkan ke dalamnya. Selain itu, ayat-ayat Al-Qur'an juga membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sebagaimana api membedakan mana yang buruk dan mana yang baik yang ada pada emas, perak, tembaga dan lainnya.
Marilah kita berdoa agar kita mendapatkan "mata air kehidupan" sebagai bekal kita dalam mengarungi hidup ini:
"Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak merasa puas dan dari doa yang tidak mustajab (dikabulkan).(HR. Muslim, an-Nasa'iy, Ahmad dan ath-Thabraniy)

0 komentar:

Poskan Komentar