Kamis, 03 November 2011

Sebuah cerita pendek tentang MATA

karya Ephie Taga, untuk forum MuDAers NTT Menulis dan komunitas sastra #daunlontar



Benci sekali melihat seringai di wajahnya. Ia tak pernah hangat padaku, seperti ayah-ayah lainnya. Ayah, begitu aku harus memanggilnya. Ayah, yang aku tau hanya hadir dalam sosoknya saja. Entah kapan ia hadir, tapi seingatku aku masih berumur 9 tahun kala itu. Ibu hanya mengajarkanku untuk memanggilnya seperti itu.
Namaku Intan Permatawati. Umurku 14 tahun. Aku meminta dipanggil “Mata”, boleh kan?? Beberapa saat sejak kehadirannya, terlebih sejak kehadiran adik, aku selalu ingin menjadi mata yang bisa awas terhadap setiap gerak geriknya. Bisa menjadi mata bagi ibu dan adik. Sayangnya aku tak mampu menjadi mata bagi diriku sendiri.

Kadang ingin kucongkel mataku sendiri. Kemudian mulai mengomel dan mencaci maki diri sendiri. “bodoh, tolol!! kenapa kau biarkan ini?” atau terkadang menghadap pada cermin, mulai mengamati setiap jengkal tubuh dan mulai merasa jijik sendiri. “perempuan anj*ing!!! Tidak lelah juga kau rupanya!” Aku tau siapa yang aku maki, aku dan aku sendiri.

....Dimana kau? Dimana kau? Kadang aku mencari diriku sendiri. Kadang aku berteriak meminta mataku untuk tetap awas. demi orangorang terkasih....

Beberapa bulan aku akan merasa aman. Sangat nyaman. Ketika ayah tak di rumah. Sepertinya gampang sekali memunculkan tawa riang dan canda kala itu. Ibu akan selalu menertawai gerak-gerik kami yang menggelikan. Tidak seperti kala ayah disampingnya. Ia akan menjadi orang yang sangat berbeda. Seperti saat itu. Hanya duduk diam setelah mengerjakan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Kemudian tertunduk. Hanya melirik kami sesekali. Ia seperti hidup dengan dua kepribadian.
                         
Jujur saja, kebencian ini awalnya muncul bukan karena seringainya. Seperti juga namaku. Awalnya aku sangat senang dipanggil “intan”. Kata guruku, aku kaya. Bayangkan saja, dalam nama saja sudah ada intan dan permata, bagaimana dalam kehidupan nyata? Bagaimana? Tidak ada, tentu saja tidak ada. Jangankan intan permata, uang 50ribu saja sampai seumur begini baru sekali kurasakan dalam genggaman tanganku, ketika ibu menyuruhku membayarkan utangnya pada ibu lurah, ia malu untuk berhadapan langsung karna sudah berbulanbulan ia mencoba menghindar. Jadi lembaran itu hanya singgah sementara lalu berpindah ke tangan orang lain. Tidak sampai 10 menit malah.

Suatu malam, diharihari pertama aku memanggilnya ayah, tanpa sengaja aku mendengar mereka saling berteriak, memaki satu dengan yang lain. Malam itu juga pertama kalinya aku mengetahui bahwa segala macam binatang bisa keluar dari mulut seorang lakilaki. Ibu sempat berteriak “berhenti, aku tidak mau intan mendengarnya...”, tapi apa mau dikata, rumah sekecil ini hanya dengan dinding yang mungkin siap runtuh kalau memang niat menubrukkan diri, mana mungkin tidak terdengar. Ketika itu ibu sedang hamil tua. Aku tidak pernah tau rasanya, aku hanya merasa bahwa sebentar lagi akan ada suara bayi, yang paling tidak bisa mengimbangi suara ribut-ribut ini. Setidaknya bukan hanya ribut-ribut ini saja yang bisa aku dengar. Bosan!!

Diharihari pertama itu juga pertama kali aku melihat bayangan ayah memegang pisau dengan kalapnya. Ia berlari menuju ibu seolaholah ingin membunuhnya. Ibu hanya terdiam. Bu, mengapa lemah sekali?? Mataku panas...mataku mulai tergenang...kenapa orang seperti ini yang harus hadir dirumah ini? Kalau bisa memilih, aku lebih bahagia tanpa ayah, seperti tahuntahun sebelumnya. Meski harus mendengar omongan miring tentang ibu dan tentu saja berimbas padaku, aku lebih bahagia kala itu. Ibu tidak selemah ini. Sekejap aku berlari menahan tangan ayah. Ini tak boleh, ini tak boleh...hanya itu yang ada di otakku. Aku tak merasa takut padanya, sampai sekarangpun masih begitu.

Sehari setelahnya ayah mendatangi aku, sepertinya ia tau benih keberanian yang ada dalamku. Setengah berbisik ia mengancamku. “kau akan lebih menderita jika berani melawanku”. Seringai pertamanya terlihat. Ia terlihat seperti seekor srigala yang siap memakan anaknya sendiri. Aaahhhh tidak, aku tidak sedarah dengannya.
Sejak itu aku berjanji menjadi mata. Bagi ibu dan adikku. Mataku harus tetap mengawasinya.
                              
Kehadiran adik tidak terlalu membawa perubahan. Malah aku merasa masing-masing kami menjadi dua kepribadian yang berbeda. Ketika ayah ada dan ketika ia pergi. Pekerjaannya sebagai supir truk pada sebuah perusahaan plastik mengharuskan ia untuk pergi setidaknya selama seminggu dan bisa bersenangsenang selama 2 hari. 2 hari kesenangannya menjadi pesakitan kami.
Malam kemarin, seperti biasa, ia datang tanpa jadwal pastinya itu. Ribut-ribut yang aku takutkan sama skali tidak terjadi. Tidak satupun suara terdengar. Aku bisa tidur dengan tenang..
                               
Sore pertama kedatangan ayah, di bulan juni, setahun lalu...
Ia tenang..kami biasabiasa saja. Seperti yang sudahsudah, ia mengoceh tentang pekerjaannya, sepanjang perjalanannya, sepanjang ia duduk di belakang kemudinya. Aku teruskan bacaanku, hanya ibu yang betah mendengarnya.
Malam menjelang, dan trima kasih Tuhan tidak menghujani hariku dengan teriakanteriakan tak bergunanya.

Malam ini aku yang berteriak, ibu tak mendengarnya. Ayah menutup mulutku dengan tangannya. Ia leluasa melakukannya, ditolong gelap kamarku. Hitam itu hanya menolongku sedikit, memperlihatkan seringai ayah. Sejak saat itu aku membencinya.
Panggil aku Mata. Karna meski malam ini mataku tak menolongku, aku akan tetap menjadi Mata.

0 komentar:

Poskan Komentar