Jumat, 02 Desember 2011

pandangan mata

Kamis, 01 Desember 2011

alt
Pada puluhan tahun yang lalu, suatu malam di musim dingin, di sebelah utara Virginia, ada seorang kakek sedang berada di dermaga menunggu kapal feri untuk menyeberang.
Namun kapal itu tak kunjung tiba. Butiran salju membuat janggutnya seperti lapisan glasir. Tampaknya ia akan menunggu dengan sia-sia. Hembusan angin utara membuat tubuhnya mati rasa dan kaku. 
Tiba-tiba, suasana sunyi dipecahkan oleh bunyi tapak kuda yang berirama. Ia dengan cemas melihat beberapa penunggang kuda yang melewati samping tubuhnya.
Sampai pada penunggang terakhir yang melaluinya, sang penunggang itu memandang padanya, kakek yang berdiri di salju yang menegang kaku.
Pada saat dia akan melewati kakek ini, si kakek tiba-tiba memandang ke mata penunggang kuda itu. Ia berkata, ”Tuan, bisakah engkau membiarkan seorang kakek bersamamu menunggang seekor kuda melanjutkan perjalanan? Engkau tahu, jika hanya dengan berjalan kaki, maka sangat sulit melanjutkan perjalanan ini.”
Penunggang kuda itu sambil mengekang kudanya, berkata, ”Memang benar, Ayo naik!”
Dia melihat kakek ini sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang setengah beku, penunggang kuda ini melompat dari kudanya, membantu kakek ini naik diatas pelana kudanya.
Penunggang kuda itu tidak hanya mengantar kakek ini menyeberangi sungai, dia juga mengantar kakek ini ke tempat tinggalnya yang jaraknya beberapa mil jauhnya. 
Ketika dia mendekati sebuah pondok yang kecil tetapi nyaman, rasa ingin tahu penunggang kuda itu membuat dia bertanya kepada kakek ini.
“Saya lihat kakek membiarkan penunggang kuda terdahulu melewatimu. Kakek tidak meminta bantuan mereka. Tapi ketika saya melewatimu, kakek meminta bantuan saya. Saya sangat heran kenapa bisa begitu? Di malam yang dingin membeku ini, engkau menunggu sampai penunggang terakhir engkau baru meminta bantuannya, jika saya menolak membantu anda, apa yang akan terjadi?” kata penunggang kuda itu.
Kakek dengan perlahan turun dari kudanya, dengan pandangan mata takjub memandang kepada penunggang kuda ini, sambil berkata, “Saya telah berada disana menunggu beberapa waktu, tetapi saya tahu siapa yang memiliki karakter yang baik.” 
Kakek melanjutkan berkata, “Saya sudah mengamati beberapa penunggang kuda tersebut, mereka sama sekali tidak peduli dengan situasi saya, jika pada saat itu saya meminta bantuan mereka, mereka pasti akan menolak membantu. Tetapi ketika saya dengan cermat memandang ke mata anda, kebaikan dan belas kasihan ada dimata anda. Saya tahu pada saat itu karena kebaikan hati anda saya mendapatkan kesempatan ini, pada saat saya sangat membutuhkan bantuan anda telah membantu saya.”
Evaluasi kakek ini dengan hangat menyentuh langsung hati penunggang kuda ini.
“Evaluasimu terlalu menyanjung saya,” katanya.
Dia berkata kepada kakek itu lagi, “Karena dahulu saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya, oleh sebab itu saya tidak bisa memberikan bantuan ketika orang lain yang membutuhkan perhatian dan bantuan dari saya.”
Setelah berkata demikian, sang penunggang kuda yang tak lain adalah Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat membalikkan kudanya, menapak kembali berjalan menuju gedung putih. (hui/ch)

0 komentar:

Poskan Komentar