Jumat, 02 Desember 2011

Posisi Membaca dan Kesehatan Mata Anak

Mengenalkan buku sejak dini adalah hal yang perlu dilakukan oleh orang tua. Dari buku, mereka akan mendapatkan informasi untuk mengetahui apapun. Jadi, dengan mengenal dan mencintai buku, maka diharapkan si kecil akan lebih mengenal dunia.
Untuk menunjang kegiatan si Kecil, seperti membaca dan bermain, mata sangat mutlak harus dijaga kesehatannya. Dengan mata sehat yang berfungsi optimal, maka kegiatan si kecil dapat berlangsung dengan baik, dan si kecil dapat menjadi seorang explorer yang unggul.
Pada talkshow yang diadakan oleh DANCOW Parenting Centre dan Delta radio 99.1 FM pada hari Kamis, 27 Maret 2008, menampilkan tema mengenai “Posisi Membaca Dan Kesehatan Mata Anak Serta Manfaat Vitamin A Terhadap Kesehatan Mata”. Talkshow ini menampilkan seorang dokter spesialis mata, yakni Dr. Julie Dewi, SpM dan Dra. Rienani Mahadi seorang praktisi gizi dari PT. Nestle Indonesia.
Mekanisme Melihat
Dr. Julie Dewi, SpM menjelaskan bahwa seseorang dapat melihat apa bila memiliki mata sehat dan berfungsi optimal. Mata terdiri dari beberapa bagian seperti retina, kornea, lensa, dan cairan yang berfungsi untuk melindungi mata. Retina adalah bagian penting mata, karena bertugas menangkap objek benda, kemudian akan meneruskan ke otak.
Mata normal akan melihat dengan jelas dan tajam, baik melihat benda jauh atau dekat. Hal ini disebabkan bayangan objek akan jatuh tepat pada retina. Pada mata normal, apabila melihat suatu objek jauh, maka mata akan rileks, tidak akan terjadi akomodasi pada mata. Sebaliknya, bila kita melihat suatu objek yang dekat, maka akan terjadi akomodasi dan mata tidak dalam keadaan rileks. “Akomodasi adalah suatu proses yang menyebabkan adanya kontraksi pada mata” demikian papar Dr.. Julie.
Posisi yang Tepat
Apakah benar posisi membaca anak akan menentukan kesehatan matanya? Jawabannya adalah “benar” Posisi membaca memang sangat erat terkaitan dengan kesehatan mata. Apabila kita terbiasa melihat dari jarak dekat (kurang dari 30 cm) secara terus menerus, maka otot mata akan terus berkontraksi dan bekerja terus menerus, sehingga akan menyebabkan lensa mata semakin cembung, dan akan menyebabkan terjadinya rabun jauh, atau mata tidak dapat melihat lagi objek yang jauh.
Menurut Dr. Julie, jarak aman (dihitung dari mata ke objek yang dilihat) untuk membaca minimum 30 cm atau lebih. Dan jarak aman menonton televisi adalah sekitar 5 X diagonal televisi. “Inilah kisaran normal untuk membaca dan menonton televisi” demikian jelasnya.
Ketajaman penglihatan anak yang menurun, selain disebabkan karena posisi membaca atau menonton televisi yang terlalu dekat, dapat diakibatkan karena pencahayaan yang kurang. Hal ini bisa saja karena memang lampu yang redup atau karena posisi si Kecil pada saat membaca, yakni misalnya sambil tiduran. Anak yang terbiasa membaca sambil tiduran, akan membuat mata bekerja lebih keras, karena biasanya cahaya terhalang oleh buku atau kepala, sehingga mata kurang mendapat pencahayaan yang cukup.
Maka, posisi yang baik pada saat membaca adalah duduk. Nah, inilah tugas kita sebagai orang tua untuk menanamkan disiplin mengenai posisi yang benar pada saat si Kecil membaca.
Nutrisi yang Tepat
Kesehatan mata sangat diperlukan untuk menunjang aktivitas si kecil. Mereka akan meng-explore dan belajar mengenal dunia lewat mata. Nutrisi yang tepat akan membantu perkembangan penglihatan mereka.
Rienani mengatakan, tidak ada satu zat gizi yang lebih penting dari zat gizi lain. Semua zat gizi mutlak diperlukan oleh si Buah Hati untuk mendukung proses tumbuh kembangnya. “Jadi, yang paling tepat adalah dengan tetap memberikan makanan beragam dan seimbang, yakni 5 jenis makanan keluarga dan susu yang terdiri makanan pokok, lauk-pauk, susu, sayuran dan bebuahan” demikian paparnya.
Namun, memang ada zat gizi spesifik yang dapat menjaga kesehatan mata, yakni salah satunya adalah Vitamin A. Selain vitamin A, diperlukan juga protein yang dapat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel mata, asam lemak docosahexaenoic acid (DHA), dan juga lemak itu sendiri yang merupakan pelarut dan pengangkut vitamin A.
Selain untuk kesehatan mata, vitamin A juga dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Jadi, kekurangan vitamin A, selain terganggunya kesehatan kulit juga dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh si kecil sehingga ia menjadi mudah sakit, mudah terkena infeksi, dan apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka akan merusak sel-sel mata, dan akan menyebabkan beberapa kerusakan mata, seperti rabun senja, bitot spot atau bercak bitot, dan akan menyebabkan kebutaan.
Kerusakan mata akibat kekurangan vitamin A dapat dicegah dengan memberikan makanan yang banyak mengandung vitamin A. Sumber vitamin A ini banyak didapat dari hewani, yakni hati, kuning telur, susu. Sedangkan pro vitamin A, yakni beta karoten yang akan dikonversi menjadi vitamin A di dalam tubuh, banyak didapat dari tumbuhan, yakni sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan buah-buahan yang berwarna jingga seperti wortel, jagung kuning, pepaya.
Bagaimana halnya dengan “lutein”, Rienani menjawab pertanyaan pendengar radio Delta, memaparkan bahwa belum ada penelitian kuat “lutein” untuk anak yang terkait dengan suplementasi “lutein” dan kesehatan mata anak. Belum ada aturan atau standar khusus berapa dosis yang tepat untuk “lutein”; bahkan di Amerika Serikat, Australia dan New Zealand belum setuju penambahan “lutein” pada susu anak. Demikian jelas Rienani
Pemerintah Indonesia juga telah menyediakan layanan pemberian vitamin A secara cuma-cuma untuk anak balita di berbagai institusi kesehatan seperti puskesmas dan posyandu.

0 komentar:

Poskan Komentar