Jumat, 02 Desember 2011

Waspadai Mata Ikan

Pengerasan kulit di telapak kaki atau tangan yang disebut mata ikan atau clavus memang menyebalkan. Seperti kapalan tetapi lebih keras dan sakit jika ditekan (kalau di telapak kaki, terasa sakit kalau berjalan). Untuk menghilangkannya secara efektif pun terasa menyakitkan karena harus dioperasi kecil (cauter) dan tentu saja wajib dilakukan oleh dokter.
Mata ikan di telapak kaki kiri saya sudah lama bercokol. Salah satu karakter dari penyakit ini adalah tumbuh dengan pelan dan pasti. Sampai saya tidak menyadari kalau mata ikan di kaki saya itu sudah cukup besar dan berlubang. Kalau pagi terasa sakit sekali jika dipakai berjalan.
Akhirnya, saya membulatkan tekad untuk meminta dokter membedah penyakit ini. Saya pun mendatangi dokter spesialis kulit dan kelamin di Rumah Sakit Elizabeth Semarang.
Begitu melihat mata ikan di kaki saya, Dokter Paulus Yogyartono sepertinya tidak punya pilihan lain. “Berani kan kalo dioperasi, dibius lokal kok,” katanya.
Oke, memang sepertinya itulah solusi yang terbaik. Dengan dibedah, akar mata ikan itu bisa diambil dan berpeluang besar tidak tumbuh lagi. Setelah menyetujui biaya operasi Rp 200.000, saya pun pasrah tergeletak di ranjang periksa.
“Sakit gak dok?”
“Gak, paling sakit dikit pas disuntik”
Benar saja, pas disuntik, sakitnya minta ampun. Padahal, dokter sudah pakai jarum yang paling kecil, tapi rasanya tetap saja seperti kena pecahan kaca. Tidak tanggung-tanggung, empat suntikan obat bius sudah menyebar di sekeliling mata ikan. Sang pasien pun terpaksa menggeliat, meronta dan menggigit lengan kaos. Untung mbak perawat di dekat kaki gak ikut kesepak. This was the worst part of the surgery.
Dokter pun segera menyiapkan, dua buah gunting operasi dan siap menguliti mata ikan. “Dok, apa gak sebaiknya tunggu beberapa menit dulu biar obat biusnya bekerja dulu?”
“Wah, terus saya gak pulang dong, nungguin seharian.” Wah dokter ini, sang pasien kan baru pertama kali mengalami operasi lokal.  Lagipula, ngeri juga liat ada orang lain yang pegang gunting dan siap menyayat kulit di bagian tubuh kita.
Tapi untunglah, proses pencabutan akar mata ikan itu tidak sakit sama sekali. Akhirnya, mata ikan berwarna coklat keputihan sebesar biji kacang itu terambil. Kata dokter, akar itu tertanam setengah sentimeter dari permukaan kulit. Setelah selesai, telapak kaki saya berlubang dan harus dibebat dengan perban. Selama empat hari, kaki tidak boleh kena air dan harus rutin minum obat dari dokter (maaf tulisan nama obat di resep gak jelas sama sekali, mungkin cuma orang farmasi yang paham).
Setelah merasakan sakitnya operasi mata ikan, saya berharap tidak lagi mengidap penyakit ini. Tapi jangan salah, penyakit ini-katakanlah-bukan penyakit kampungan lho. Kata dokter, penyakit ini disebabkan virus. Ada juga yang berpendapat kalau penyakit ini muncul gara-gara sepatu yang dipakai tidak pas dan nyaman.
Saya jadi teringat pengalaman liputan banjir di Jakarta tahun lalu. Sepanjang hari saya berbasah ria di daerah Muara Baru, Jakarta Utara, dengan beralas kaki. Setelah selesai liputan, kayaknya saya sering lupa mencuci kaki dan langsung mengetik berita. Padahal, entah bakteri dan virus macam apa saja yang ada di air banjir itu.
Salah satu langkah paling efektif adalah tetap menjaga kebersihan kaki (terutama bagi orang yang banyak berjalan ketika bekerja). Dan usahakan pula selalu memakai sepatu atau sandal yang tidak menyiksa kaki.
Sayang, masih ada bibit mata ikan di kaki sebelah kanan. Kita tunggu operasi mata ikan babak dua….

0 komentar:

Poskan Komentar